Problems shape our character
06 Sep 2011 Leave a Comment
menjadi orang biasa bukan berarti dia biasa biasa saja
bukan berarti pula menjadi orang basi, tidak ada rasa, hambar, atau tidak spesial
bukan itu…yang biasa belum tentu dia tidak bisa menjadi luar biasa.
entah kenapa, saya mulai terbiasa menjadi orang biasa. Di pikiran saya saat ini, menjadi orang biasa, yang bukan siapa-siapa, tidak memiliki apa-apa, dari keluarga biasa-biasa saja, serta menghadapi masalah yang biasa, membuat saya bisa menghadapi hidup ini dengan lebih mudah. Lain hal dengan teman saya, saya melihatnya sebagai orang yang bukan biasa dan masalah yang dia hadapi pun juga menurut saya lebih dramatis dan tidak biasa atau bahkan cenderung rumit. Ketika saya mengungkapkan “uneg-uneg” diatas didepan teman saya yang lain, dia berpendat bahwa bukan dari masalah yang dia hadapi yang membuat orang itu orang biasa maupun tidak biasa. Orang menjadi luar biasa ketika dia bisa mengahadapi masalah yang rumit/luar biasa menjadi masalah yang biasa (seperti kebiasaan, ketika dia sering menghadapi masalah luar biasa, maka masalah itu menjadi biasa saja untuk diselaikan).
Saya sempat sanksi namun pada akhirnya setuju juga.
Kharakter manusia itu bisa dilihat dari bagaimana dia menghadapi masalah, menyelesaikan konflik, berinteraksi dengan orang, dengan kata lain, bagaimana dia bersosialisasi, Karena dengan bersosialisasi akan membuat orang lain memandang dan menilai kita, oh, ternyata si A seperti itu sifatnya, si B, si C dll. Bukan begitu ?
Setiap masalah yang dihadapi manusia akan membentuk kharakter dia, yang secara tampak dapat dinilai dari sikap dia. SEdang, masalah itu bisa muncul dari sekitar kita, masalah muncul ketika kita berinteraksi, berinteraksi dengan diri sendiri yang menimbulkan konflik pribadi, maupun dengan orang lain yang disebut konflik eksternal. Dari lingkungan tersebut, masalah bisa muncul dari banyak hal, masalah keluarga, sekolah, keuangan, pertemanan, dan yang paling menarik didiskusikan adalah masalah percintaan. Hehe..
saya memiliki teman yang memiliki masalah percintaan yang rumit, rasanya masalah tersebut tidak pernah berujung pada suatu penyelesaian. Tuhan kan menciptakan masalah pasti,, saya tekankan PASTI ada penyelesaiannya. tidak mungkin tidak, dan setiap masalah yang tercipta ditujukan untuk membentuk karakter diri, perbaikan diri, dan sumber pembelajaran untuk kehidupan yang lebih baik. Mungkin secara teori gampang untuk dikatakan tapi sulit dipraktekan, ya tentu saya paham itu, lagipula saya tidak pernah mengalami masalah percintaan yang rumit seperti yang dihadapi teman saya. Namun, saya belajar banyak dari pengalaman orang lain. Dan terimakasih, saya tidak ingin mengalaminya ![]()
Lalu bagaimana penyelesaiannya, kata teman saya, masalah menjadi rumit atau tidak rumit itu tergantung bagaimana kita menyikapinya, bagaimana kita menganggap masalah itu. Kalau dari awal kita sudah meng”judge” suatu masalah itu rumit atau menghakimi masalah (suudzon) bahwa masalah ini pasti berujung dengan kesedihan atau membawa penderitaan.. Ya,,mati aja lu, nyemplung laut sana.. ![]()
Sekali lagi, manusia tidak mau kan terperosok jurang dua kali? jadi gunakan akal dan perasaanmu serta tak lupa mencari pertolongan Sang Maha Pemberi Penyelesaian dari Masalah duniawi, agar kita senantiasa ditunjukan jalan terang dan penuh keselamatan.. Yang penting kan tidak bermasalah di akherat, ya kan? amiiinnn
People live with all problem around, but God creates its solution
and when one door is closed, there’s still window to jump ,,, LOL (#kidding)
-purple-
September 6th, 2011
5.22 pm
