My little revolution
23 Dec 2011 2 Comments
Revolusi ini judulnya hijrah..
Kita pasti pernah mendengar kosakata revolusi, revolusi dibedakan dari kata evolusi karena indikasi waktu yang terkandung didalamnya. Revolusi berarti perubahan yang cepat. Orang yang bijak tentu adalah orang yang mampu melakukan revolusi menuju kebaikan. Namun kenyataanya, masih banyak orang yang terlena di “zona nyaman” mereka dan asing dengan suatu perubahan dikarenakan rasa malas atau takut akan perubahan itu sendiri apalagi dilakukan dalam waktu cepat.
Entah indikator waktu apa yang digunakan untuk bisa disebut revolusi, saya kurang paham, perlu berapa hari, bulan, atau tahun kah? Ehm,entahlah..saya ingin menceritakan perubahan (semoga masih bisa disebut sebagai revolusi) yang telah saya lakukan, yang bagi saya cukup signifikan yang saya lakukan dalam kurun waktu yang relative cepat.
Tiga bulan yang lalu keseharian saya tidak seperti saat ini. Sebelumnya saya menempati kamar disuatu kos di daerah saya tinggal. Kamar itu terletak di lantai 2 dimana untuk mengaksesnya kita harus menggunakan tangga (Yaeyalah, masak terbang! lain cerita kalau ada lift atau tangga berjalan misalnya? Mimpiii duluuu ). Cukup menguras tenaga rasanya karena tiap pagi, siang, malam, saya harus berkali-kali naik-turun tangga. Naik-turun tangga menjadi kebutuhan, aktivitas, dan rutinitas saya selama di kos karena kamar mandi, ruang makan, tempat nonton televisi, dapur, dan ruang tamu tentunya berada di lantai bawah. Dahulu ketika memutuskan untuk kos dan memilih kamar lantai atas, saya telah memikirkan konsekuensinya, yaitu harus naik turun tangga, dan siap-siap memiliki betis yang besar (bisa buat gebug maling J). Dan siapa sangka ternyata konsekuensi itu masih harus ditambah dengan kondisi kamar yang bocor bila hujan terlalu deras, tidak jarang saya harus mengepel tetesan atau rembesan air yang mengalir ke lantai. Untung saja, saat itu tidak ada benda-benda berharga yang menjadi korban amukan air hujan. Mungkin beberapa akan berpendapat, rugi banget ya, tinggal di kamar kos lantai dua kalau seperti ini kondisinya, atau berpendapat saya terlalu bego mau tinggal di kos seperti kos saya ini. Hahaha J . Lalu kenapa saya tidak pindah di kamar lantai bawah saja?
Ehmm,,,ada beberapa alasan kenapa saya tidak mau pindah ke lantai bawah:
1. karena saya malas angkat-angkat dan memindahkan barang
2. Tidak ada kamar bawah yang kosong, alias kamar kos saya penuh
3. Diatas saya memiliki privasi penuh khususnya bila ada tamu kos datang, saya tidak perlu repot-repot menggunakan jilbab bila ingin keluar kamar
4. angin semilir bertiup lebih kencang di kamar atas
5. saya memiliki banyak tempat untuk meletakan barang-barang saya
+ alasan saya tidak mau pindah kos karena kos-an saya ada pembantu yang super duper baik dan tidak cerewet. J
Keuntungan-keuntungan diatas itulah yang membuat saya betah tinggal di kamar atas sampai hampir 4 tahun lebih. Hingga suatu ketika, kurang lebih 1 bulan lalu, sewaktu saya pulang dari luar kota dan telah meninggalkan kamar saya lebih dari 5 minggu, saya terkejut mendapati lantai kamar, meja belajar, dan rak buku saya yang basah kuyup. Tidak hanya itu, kertas-kertas dan buku-buku saya menjadi basah, yang saya yakin penyebabnya adalah rembesan air hujan. Hal ini pernah terjadi di kamar saya, namun tidak seburuk ini hasilnya
Dengan sebal, saya bersihkan meja dan rak buku, serta mengepel lantai yang basah oleh air yang warnanya coklat, dan baunya apag. Waktu itu musim hujan sedang lebat lebatnya memang.
Suatu ketika, sewaktu itu saya tertidur dan hujan turun dengan lebatnya, di malam hari sekitar pukul 12 malam, saya mendadak terbangun oleh suara hujan yang terdengar lebih keras dari biasanya, dan benar saja, suara itu ditimbulkan lebih keras karena di kamar saya terasa seperti hujan sungguhan. Hanya dipan atau kasur saya saja yang tidak terkena hujan. Air hujan itu menetas deras dari plafon atap menghasilkan 5 tetesan besar yang membasahi meja, rak buku, dan lantai kamar. Awalnya saya tak percaya bahwa selama saya tinggal pergi ke luar kota, air hujan yang menetes di kamar saya inilah penyebab basahnya barang-barang saya, sebelumnya saya mengira itu karena rembesan air yang mengalir turun dari dinding ke lantai, it was worse than i thought. Cepat-cepat saya mengambil beberapa ember untuk menampung 5 tetesan besar air hujan dari atas plafon. Paginya saya mendapati air itu tertampung hingga kira-kira 1/2 ember.
Keesokan harinya, setelah saya mengetahui bahwa ada kamar yang kosong di lantai bawah. Saya cepat-cepat memutuskan untuk pindah ke kamar bawah, dan meninggalkan zona nyaman saya selama 4 tahun itu. Seketika itu juga, saya bertindak kompulsif untuk segera mengangkut-angkut barang dengan berbekal kranjang.
Berbeton-beton peluh (lebay) saya teteskan selama saya memindahkan barang-barang dari lantai atas ke bawah tanpa bantuan siapapun. Entah berapa kali saya naik-turun tangga, mungkin 50 kali lebih. Benar-benar memerlukan perjuangan untuk melakukan perubahan. Fiuhhh…
Saat ini, saya sudah menempati kamar baru di lantai bawah hampir 1 bulan, dan hanya memerlukan adaptasi kecil hingga saya bisa memperoleh kenyamanan kembali, dan yang jelas TANPA TETES AIR HUJAN lagi J. Dan ternyata tinggal di kamar bawah tidak kalah nyamannya dengan di kamar lantai atas.
Ini revolusi yang saya lakukan, karena suatu hal (air hujan) yang membuat saya terpaksa melakukannya, namun saya menemukan kebaikan di dalamnya, dan perubahan ini saya sebut hijrah.
Seorang guru pernah berkata, perubahan terkadang memerlukan paksaan, yang membuat kita bisa dan akhirnya terbiasa.
Sekian
_purple_



Dec 25, 2011 @ 02:41:40
haha…ya..mungkin masih termasuk revolusi lah..hihi..:p
sama halnya dengan “tempatku merajut asa” di blogku..
Dec 30, 2011 @ 08:41:34
hohoho..langsung ke tkp gan